Jumat, 11 Januari 2013

KESIAPAN PRIBADI

PELAYANAN DASAR PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
“KESIAPAN PRIBADI”
Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya. Pelayanan ini bertujuan untuk membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku konseli yang dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu konseli dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya (sebagai standar kompetensi kemandirian). Penulis akan membahas salah satu materi pelayanan dasar yang berkaitan dengan aspek pengembangan karir, yaitu kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah dan rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan.  
Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia pasti melakukan suatu pekerjaan karena bekerja bagi manusia adalah suatu kebutuhan, baik untuk aktualisasi diri maupun untuk mengarungi kehidupan di dunia. Bekerja disini bukan hanya bekerja dalam artian untuk mencari nafkah namun melakukan suatu aktivitas tertentu dalam keseharian sudah termasuk bekerja. Memasuki dunia kerja sepertinya memang bukanlah hal sulit untuk dijalani, tetapi bukan pula hal yang sepele untuk dilewati dan tidak dipersiapkan. Hal-hal yang perlu dipersiapkan pada diri seseorang yang akan menghadapi pekerjaan (dalam hal ini adalah para konseli), misalnya persiapan psikis-fisik atau jasmaniah-rohaniah. Seseorang yang baru memasuki dunia kerja akan berada di lingkungan yang baru, dengan situasi dan kondisi yang baru, serta orang-orang dengan kepribadian beragam yang mungkin baru dikenalnya. Orang tersebut akan merasa dirinya berada di suatu atmosfir yang asing baginya, hal ini akan berpengaruh terhadap psikisnya dan tentu saja terhadap pekerjaannya jika dia tidak memiliki kesiapan mental sebelumnya. Namun jika dia telah memiliki kesiapan mental maka mungkin akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tersebut sehingga pekerjaannya pun akan lancar. Oleh karena itu kesiapan psikis/rohaniah atau mental akan berpengaruh dalam melakukan suatu pekerjaan. Selain persiapan psikis, persiapan fisik/jasmani juga tidak kalah penting karena suatu perusahaan juga akan mempertimbangkan masalah kesehatan para calon karyawannya karena jika karyawan kondisi fisiknya kurang sehat maka akan berpengaruh terhadap produktivitas perusahaan tersebut. Selain itu orang yang baru masuk dunia kerja akan memiliki rutinitas atau aktivitas baru yaitu pekerjaannya, dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut selain menguras energi otak juga pasti menguras tenaga. Jika orang tersebut tidak memiliki kesiapan fisik yang kuat maka akan mudah sakit. Oleh karena  itu dalam menyongsong dunia pekerjaan kita harus memiliki kesiapan fisik-psikis atau jasmaniah-rohaniah.
Hubungan Kesiapan Pribadi dengan Siswa Sekolah Dasar
            Seperti yang disebutkan di awal bahwa bekerja disini bukan hanya bekerja dalam artian untuk mencari nafkah namun melakukan suatu aktivitas tertentu dalam keseharian sudah termasuk bekerja. Aktivitas-aktivitas dalam keseharian sangat banyak salah satunya adalah belajar. Karena belajar merupakan salah satu aktivitas dan aktivitas termasuk dalam bekerja maka belajar juga memerlukan kesiapan pribadi yaitu kesiapan fisik-psikis atau jasmaniah-rohaniah.
Di negara kita, umumnya seseorang memasuki pendidikan sekolah mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Setelah melewati TK A dan TK B, diharapkan anak siap untuk mengikuti pendidikan di SD. Sekolah dasar bertanggung jawab memberikan pengalaman - pengalaman dasar kepada anak, yaitu kemampuan dan kecakapan membaca, menulis dan berhitung, pengetahuan umum serta perkembangan kepribadian, yaitu sikap terbuka terhadap orang lain, penuh inisiatif, kreatifitas, dan kepemimpinan, ketrampilan serta sikap bertanggung jawab. Dengan kesiapan itu, anak diharapkan dapat mencapai kompetensi-kompetensi tersebut, anak yang telah memiliki kesiapan mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk berhasil mengikuti pendidikan pada jenjang selanjutnya dibandingkan anak-anak yang belum memiliki kesiapan baik fisik maupun psikis. Seperti yang dikatakan oleh Lefrancois (2000) bahwa peserta belajar yang telah siap untuk belajar hal-hal yang lebih spesifik akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih banyak dan kaya dibandingkan yang belum siap.
Istilah kesiapan (readiness), dalam kamus Webster didiskripsikan sebagai:
1.      Kesiapan mental atau fisik untuk bertindak atau menerima pengalaman.
2.      Yang tangkas/pantas, cakap, atau trampil.
3.      Immediate availability (Gredler,1992).
            Istilah kesiapan dan kematangan sekolah mempunyai pengertian yang sama, hal ini didasari oleh pendapat Piaget (dalam Gredler,1992) yang menyatakan kedua istilah ini mempunyai pengertian yang sama karena kesiapan tidak akan pernah dapat tercapai tanpa kematangan. Untuk bisa dikatakan siap, tentu saja ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi. Ada beberapa pandangan dan tokoh yang memberikan sumbangan tentang kriteria kematangan sekolah, diantaranya adalah:
1.      David Ausubel (1962) yang mendiskripsikan kematangan sekolah sebagai kondisi tertentu yang tergantung pada pertumbuhan dan kematangan serta pengalaman sosial anak. Menurutnya kesiapan sekolah adalah suatu kondisi di mana:
·         Anak dapat belajar dengan mudah tanpa ketegangan emosi.
·         Anak mampu menujukkan motivasinya karena usahanya untuk belajar memberikan hasil yang sesuai.
2.      Strebel (dalam Mangunsong dkk, 1993) mengemukakan tujuh kriteria kematangan sekolah sebagai berikut:
a.       Perkembangan fisik yang sudah matang.
b.      Derajat ketergantungan terhadap orang tua, terutama sejauh mana keterikatan anak kepada ibunya.
c.       Pemilihan tugas sendiri sesuai dengan minatnya.
d.      Dapat menyelesaikan tugas yang diberikan maupun yang dipilih sendiri.
e.       Ketepatan prestasi kerja, sehubungan dengan konsentrasi dan perhatiannya terhadap pelajaran.
f.       Keteraturan dalam berpikir daan bertingkah laku secara sosial, dalam bekerja kelompok dan teman-temannya.
g.      Perkembangan mental yang dapat diukur dengan tes inteligensi dan tes kematangan sekolah.
Hal-hal yang mempengaruhi kesiapan seseorang dalam belajar adalah:
1.      Kematangan fisik.
2.      Perkembangan keterampilan berpikir.
3.      Adanya motivasi.

1.      Kematangan fisik
Kesiapan siswa dalam sudut pandang sehat fisik adalah ketercapaian siswa pada tingkat kesegaran jasmani yang tinggi.
Sehat fisik dapat dibagi menjadi:
·         Sehat statis, ialah fungsi alat-alat tubuh normal dalam keadaan istirahat
·         Sehat dinamis, ialah fungsi alat-alat tubuh pada waktu bekerja normal.
Agar bisa mengikuti pelajaran dan berkonsentrasi terhadap mata pelajaran, seorang siswa sekolah dasar tidak hanya perlu sehat, namun harus juga bugar. Sehat adalah bebas dari penyakit. Sehat dengan arti bebas dari penyakit belum tentu menjamin kemampuan anak untuk mampu bertahan dalam mengikuti pelajaran, berfikir, dan berespon terhadap pelajaran yang diterima di kelas atau pada saat belajar di rumah. Sehingga selain sehat juga harus bugar, bugar berarti fungsi jantung-paru berkembang dengan baik sehingga aliran darah ke seluruh tubuh termasuk ke otak lancar, sehingga menjamin oksigenasi otak dan mengurangi rasa kantuk serta menambah daya konsentrasi. Selain itu, dengan kebugaran yang baik maka sistem perototan menjadi mampu bertahan duduk mendengarkan dan mengikuti pelajaran serta masih mempunyai tenaga untuk berlari dan beraktivitas yang lain pada saat istirahat. Aktivitas pada saat istirahat di kelas, dan pada pelajaran pendidikan jasmani merangsang tumbuh kembang anak terutama perkembangan fisik.

2.      Perkembangan keterampilan berpikir
Hal ini berkaitan dengan kognitif siswa, kesiapan kognisi bertalian dengan pengetahuan, pikiran, dan kualitas berpikir seseorang dalam menghadapi situasi belajar yang baru. Kemampuan-kemampuan ini tergantung pada tingkat kematangan intelektual, latar belakang pengalaman, dan cara-cara pengetahuan sebelumnya distruktur atau disusun ( Connell, 1974 ).

Contoh kematangan intelektual antara lain adalah tingkat-tingkat perkembangan kognisi Piaget yaitu:
1.      Tahap sensori motorik (0-2 tahun), anak dikendalikan oleh perasaan dan aktivitas motorik, serta terbatas pada benda konkrit.
2.      Tahap pre operational (2-6 tahun), anak mulai mengenal simbol termasuk simbol verbal.
3.      Tahap concrete operational (7-11 tahun), anak mulai dapat membandingkan pendapat namun masih tergantung pada masalah konkrit.
4.      Tahap formal operational (12 tahun ke atas), pada tahap ini anak mulai dapat berpikir abstrak.
Sedangkan Ausubel mengatakan faktor yang paling penting mempengaruhi belajar adalah apa yang sudah di ketahui oleh anak-anak. Sedangkan perihal menstruktur kognisi dalam banyak kasus para siswa dapat menstruktur kembali pengetahuan untuk penyesuaian dengan materi-materi baru yang di terima dari pendidik. Akan tetapi pada kasus-kasus yang lain, struktur kognisi itu dipegang erat-erat sehingga membuat pendidik mencari pendekatan lain agar anak-anak dapat menangkap materi pelajaran baru itu.
3.      Adanya motivasi
            Hal ini berkaitan dengan psikis siswa, motivasi adalah dorongan baik dari dalam maupun dari luar diri siswa untuk melakukan sesuatu termasuk belajar. Dengan adanya motivasi maka siswa akan lebih memiliki kesiapan dalam mengikuti pembelajaran.
Motivasi ditentukan oleh beberapa faktor antara lain:
·        Minat dan kebutuhan individu.
·        Persepsi terhadap tugas yang menantang.
·        Harapan sukses.
            Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kesiapan pribadi baik fisik/jasmaniah maupun psikis/rohaniah memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan suatu aktivitas atau kegiatan. Sehingga jika kita hendak melakukan segala sesuatu harus dimulai dengan kesiapan diri agar memperoleh hasil yang maksimal.

Daftar rujukan:
Kartaadinata, Sunaryo. 2007. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan  Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.    
http://wordpress.com/faktor-faktor-kesiapan-siswa/
http://forum.upi.edu/v3/index.php?topic=16234.msg50315#msg50315

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Template by : kendhin x-template.blogspot.com