Minggu, 13 Januari 2013

Perkembangan Peserta Didik


 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Peserta Didik
1. Faktor internal
Yaitu factor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri. Dengan demikian factor internal bisa dibagi menjadi 2 macam factor pisik dan factor psikis.
a.         Faktor pisik
Di dunia ini orang mempunyai bentuk tubuh yang bermacam – macam. Ada yang tinggi ceking, ada yang pendek gemuk, dan ada yang sedang antara tinggi dan besar badanya. Sudah jelas, masing – masing mmpunyai pengaruh tersendiri bagi perkembangan seorang anak.
b.        Faktor psikis
Dalam hal kejiwaan, ada anak periang, sehingga banyak pergaulan. Akan tetapi ada pula yang selalu tampak murung, pendiam, mudah tersinggung karenanya suka menyendiri.

2.  Faktor Eksternal
Yaitu hal – hal yang datang atau ada diluar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungan. Factor eksternal dibagi menjadi 6 macam : factor biologis, physis, ekonomis, cultural, edukatif, dan religious.
a.         Faktor biologis
Bisa diartikan, biologis dalam konteks ini adalah factor yang berkaitan dengan keperluan primer seorang anak pada awal kehidupanya: Factor ini wujudnya berupa pengaruh yang datang pertama kali dari pihak ibu dan ayah.
b.        Faktor phyis
Maksudnya adalah pengaruh yang datang dari lingkungan geografis, seperti iklim keadaan alam, tingkat kesuburan tanah, jalur komunikasi dengan daerah lain, dsb. Semua ini jelas membawa dampak masing – masing terhadap perkembangan anak – anak yang lahir dan dibesarkan disana.
c.         Faktor ekonomis
 Dalam proses perkembanganya. Betapapun ukuranya bervariasi, seorang anak pasti memerlukan biaya. Biaya untuk makan dan minum dirumah, tetapi juga untuk membeli   alat – alat sekolah.
d.        Faktor cultural
Di Indonesia ini saja dari aceh sampai Irian jaya, jika dihitung ada berpuluh bahkan beratus kelompok masyarakat yang masing – masing mempunyai kultur, budaya, adat istiadat, dan tradisi tersendiri, dan hal ini jelas berpengaruh terhadap perkemangan anak – anak.
e.         Faktor edukatif
Pendidikan tak dapat disangkal mempunyai pengaruh terhadap perkembangan anak manusia. Malah karena sifatnya berencana dan sering kali diusahakan secara teratur, faktor pendidikan ini relatif paling besar pengaruhnya disbanding factor yang lain manapun juga.
f.         Faktor religius
Sebagai contoh seorang anak kyai, sudah pasti ia akan berebeda dengan anak lain yang tidak menjadi kyai, yang sekedar terhitung orang beragama, lebih – lebih yang memang tidak beragama sama sekali, ini adalah soal perkembangan pula, menyangkut proses terbentunya prilaku seorang anak dengan agama sebagai faktor penting yang mempengaruhinya.

Jumat, 11 Januari 2013

KESIAPAN PRIBADI

PELAYANAN DASAR PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING
“KESIAPAN PRIBADI”
Pelayanan dasar diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan (yang dituangkan sebagai standar kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya. Pelayanan ini bertujuan untuk membantu semua konseli agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain membantu konseli agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, fokus perilaku konseli yang dikembangkan menyangkut aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir. Semua ini berkaitan erat dengan upaya membantu konseli dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya (sebagai standar kompetensi kemandirian). Penulis akan membahas salah satu materi pelayanan dasar yang berkaitan dengan aspek pengembangan karir, yaitu kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah dan rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan.  
Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia pasti melakukan suatu pekerjaan karena bekerja bagi manusia adalah suatu kebutuhan, baik untuk aktualisasi diri maupun untuk mengarungi kehidupan di dunia. Bekerja disini bukan hanya bekerja dalam artian untuk mencari nafkah namun melakukan suatu aktivitas tertentu dalam keseharian sudah termasuk bekerja. Memasuki dunia kerja sepertinya memang bukanlah hal sulit untuk dijalani, tetapi bukan pula hal yang sepele untuk dilewati dan tidak dipersiapkan. Hal-hal yang perlu dipersiapkan pada diri seseorang yang akan menghadapi pekerjaan (dalam hal ini adalah para konseli), misalnya persiapan psikis-fisik atau jasmaniah-rohaniah. Seseorang yang baru memasuki dunia kerja akan berada di lingkungan yang baru, dengan situasi dan kondisi yang baru, serta orang-orang dengan kepribadian beragam yang mungkin baru dikenalnya. Orang tersebut akan merasa dirinya berada di suatu atmosfir yang asing baginya, hal ini akan berpengaruh terhadap psikisnya dan tentu saja terhadap pekerjaannya jika dia tidak memiliki kesiapan mental sebelumnya. Namun jika dia telah memiliki kesiapan mental maka mungkin akan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tersebut sehingga pekerjaannya pun akan lancar. Oleh karena itu kesiapan psikis/rohaniah atau mental akan berpengaruh dalam melakukan suatu pekerjaan. Selain persiapan psikis, persiapan fisik/jasmani juga tidak kalah penting karena suatu perusahaan juga akan mempertimbangkan masalah kesehatan para calon karyawannya karena jika karyawan kondisi fisiknya kurang sehat maka akan berpengaruh terhadap produktivitas perusahaan tersebut. Selain itu orang yang baru masuk dunia kerja akan memiliki rutinitas atau aktivitas baru yaitu pekerjaannya, dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut selain menguras energi otak juga pasti menguras tenaga. Jika orang tersebut tidak memiliki kesiapan fisik yang kuat maka akan mudah sakit. Oleh karena  itu dalam menyongsong dunia pekerjaan kita harus memiliki kesiapan fisik-psikis atau jasmaniah-rohaniah.
Hubungan Kesiapan Pribadi dengan Siswa Sekolah Dasar
            Seperti yang disebutkan di awal bahwa bekerja disini bukan hanya bekerja dalam artian untuk mencari nafkah namun melakukan suatu aktivitas tertentu dalam keseharian sudah termasuk bekerja. Aktivitas-aktivitas dalam keseharian sangat banyak salah satunya adalah belajar. Karena belajar merupakan salah satu aktivitas dan aktivitas termasuk dalam bekerja maka belajar juga memerlukan kesiapan pribadi yaitu kesiapan fisik-psikis atau jasmaniah-rohaniah.
Di negara kita, umumnya seseorang memasuki pendidikan sekolah mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Setelah melewati TK A dan TK B, diharapkan anak siap untuk mengikuti pendidikan di SD. Sekolah dasar bertanggung jawab memberikan pengalaman - pengalaman dasar kepada anak, yaitu kemampuan dan kecakapan membaca, menulis dan berhitung, pengetahuan umum serta perkembangan kepribadian, yaitu sikap terbuka terhadap orang lain, penuh inisiatif, kreatifitas, dan kepemimpinan, ketrampilan serta sikap bertanggung jawab. Dengan kesiapan itu, anak diharapkan dapat mencapai kompetensi-kompetensi tersebut, anak yang telah memiliki kesiapan mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk berhasil mengikuti pendidikan pada jenjang selanjutnya dibandingkan anak-anak yang belum memiliki kesiapan baik fisik maupun psikis. Seperti yang dikatakan oleh Lefrancois (2000) bahwa peserta belajar yang telah siap untuk belajar hal-hal yang lebih spesifik akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih banyak dan kaya dibandingkan yang belum siap.
Istilah kesiapan (readiness), dalam kamus Webster didiskripsikan sebagai:
1.      Kesiapan mental atau fisik untuk bertindak atau menerima pengalaman.
2.      Yang tangkas/pantas, cakap, atau trampil.
3.      Immediate availability (Gredler,1992).
            Istilah kesiapan dan kematangan sekolah mempunyai pengertian yang sama, hal ini didasari oleh pendapat Piaget (dalam Gredler,1992) yang menyatakan kedua istilah ini mempunyai pengertian yang sama karena kesiapan tidak akan pernah dapat tercapai tanpa kematangan. Untuk bisa dikatakan siap, tentu saja ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi. Ada beberapa pandangan dan tokoh yang memberikan sumbangan tentang kriteria kematangan sekolah, diantaranya adalah:
1.      David Ausubel (1962) yang mendiskripsikan kematangan sekolah sebagai kondisi tertentu yang tergantung pada pertumbuhan dan kematangan serta pengalaman sosial anak. Menurutnya kesiapan sekolah adalah suatu kondisi di mana:
·         Anak dapat belajar dengan mudah tanpa ketegangan emosi.
·         Anak mampu menujukkan motivasinya karena usahanya untuk belajar memberikan hasil yang sesuai.
2.      Strebel (dalam Mangunsong dkk, 1993) mengemukakan tujuh kriteria kematangan sekolah sebagai berikut:
a.       Perkembangan fisik yang sudah matang.
b.      Derajat ketergantungan terhadap orang tua, terutama sejauh mana keterikatan anak kepada ibunya.
c.       Pemilihan tugas sendiri sesuai dengan minatnya.
d.      Dapat menyelesaikan tugas yang diberikan maupun yang dipilih sendiri.
e.       Ketepatan prestasi kerja, sehubungan dengan konsentrasi dan perhatiannya terhadap pelajaran.
f.       Keteraturan dalam berpikir daan bertingkah laku secara sosial, dalam bekerja kelompok dan teman-temannya.
g.      Perkembangan mental yang dapat diukur dengan tes inteligensi dan tes kematangan sekolah.
Hal-hal yang mempengaruhi kesiapan seseorang dalam belajar adalah:
1.      Kematangan fisik.
2.      Perkembangan keterampilan berpikir.
3.      Adanya motivasi.

1.      Kematangan fisik
Kesiapan siswa dalam sudut pandang sehat fisik adalah ketercapaian siswa pada tingkat kesegaran jasmani yang tinggi.
Sehat fisik dapat dibagi menjadi:
·         Sehat statis, ialah fungsi alat-alat tubuh normal dalam keadaan istirahat
·         Sehat dinamis, ialah fungsi alat-alat tubuh pada waktu bekerja normal.
Agar bisa mengikuti pelajaran dan berkonsentrasi terhadap mata pelajaran, seorang siswa sekolah dasar tidak hanya perlu sehat, namun harus juga bugar. Sehat adalah bebas dari penyakit. Sehat dengan arti bebas dari penyakit belum tentu menjamin kemampuan anak untuk mampu bertahan dalam mengikuti pelajaran, berfikir, dan berespon terhadap pelajaran yang diterima di kelas atau pada saat belajar di rumah. Sehingga selain sehat juga harus bugar, bugar berarti fungsi jantung-paru berkembang dengan baik sehingga aliran darah ke seluruh tubuh termasuk ke otak lancar, sehingga menjamin oksigenasi otak dan mengurangi rasa kantuk serta menambah daya konsentrasi. Selain itu, dengan kebugaran yang baik maka sistem perototan menjadi mampu bertahan duduk mendengarkan dan mengikuti pelajaran serta masih mempunyai tenaga untuk berlari dan beraktivitas yang lain pada saat istirahat. Aktivitas pada saat istirahat di kelas, dan pada pelajaran pendidikan jasmani merangsang tumbuh kembang anak terutama perkembangan fisik.

2.      Perkembangan keterampilan berpikir
Hal ini berkaitan dengan kognitif siswa, kesiapan kognisi bertalian dengan pengetahuan, pikiran, dan kualitas berpikir seseorang dalam menghadapi situasi belajar yang baru. Kemampuan-kemampuan ini tergantung pada tingkat kematangan intelektual, latar belakang pengalaman, dan cara-cara pengetahuan sebelumnya distruktur atau disusun ( Connell, 1974 ).

Contoh kematangan intelektual antara lain adalah tingkat-tingkat perkembangan kognisi Piaget yaitu:
1.      Tahap sensori motorik (0-2 tahun), anak dikendalikan oleh perasaan dan aktivitas motorik, serta terbatas pada benda konkrit.
2.      Tahap pre operational (2-6 tahun), anak mulai mengenal simbol termasuk simbol verbal.
3.      Tahap concrete operational (7-11 tahun), anak mulai dapat membandingkan pendapat namun masih tergantung pada masalah konkrit.
4.      Tahap formal operational (12 tahun ke atas), pada tahap ini anak mulai dapat berpikir abstrak.
Sedangkan Ausubel mengatakan faktor yang paling penting mempengaruhi belajar adalah apa yang sudah di ketahui oleh anak-anak. Sedangkan perihal menstruktur kognisi dalam banyak kasus para siswa dapat menstruktur kembali pengetahuan untuk penyesuaian dengan materi-materi baru yang di terima dari pendidik. Akan tetapi pada kasus-kasus yang lain, struktur kognisi itu dipegang erat-erat sehingga membuat pendidik mencari pendekatan lain agar anak-anak dapat menangkap materi pelajaran baru itu.
3.      Adanya motivasi
            Hal ini berkaitan dengan psikis siswa, motivasi adalah dorongan baik dari dalam maupun dari luar diri siswa untuk melakukan sesuatu termasuk belajar. Dengan adanya motivasi maka siswa akan lebih memiliki kesiapan dalam mengikuti pembelajaran.
Motivasi ditentukan oleh beberapa faktor antara lain:
·        Minat dan kebutuhan individu.
·        Persepsi terhadap tugas yang menantang.
·        Harapan sukses.
            Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kesiapan pribadi baik fisik/jasmaniah maupun psikis/rohaniah memiliki pengaruh yang besar terhadap keberhasilan suatu aktivitas atau kegiatan. Sehingga jika kita hendak melakukan segala sesuatu harus dimulai dengan kesiapan diri agar memperoleh hasil yang maksimal.

Daftar rujukan:
Kartaadinata, Sunaryo. 2007. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Bandung: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan  Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional.    
http://wordpress.com/faktor-faktor-kesiapan-siswa/
http://forum.upi.edu/v3/index.php?topic=16234.msg50315#msg50315

BIMBINGAN DAN KONSELING


Pengertian dan Latar belakang BK

1.      Pengertian Bimbingan dan Konseling
a.       Bimbingan
Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu secara terus-menerus dan sistematis oleh pembimbing agar individu  atau sekelompok individu dapat mencapai perkembangan optimal atau menjadi pribadi yang mandiri.
·         Bimbingan adalah suatu proses, artinya bimbingan merupakan kegiatan yang berlangsung terus menerus, sistematis dan berencana yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan dan bukan kegiatan seketika atau kebetulan.
·         Bimbingan adalah bantuan, maksud bantuan dalam  bimbingan ialah mengembangkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan individu, memberikan motivasi, menumbuhkan keberanian bertindak dan bertanggungjawab  serta mengembangkan kemampuan untuk memperbaiki dan mengubah perilakunya sendiri.
·         Bantuan itu diberikan kepada individu atau kelompok, individu yang diberi bantuan adalah individu yang sedang berkembang dengan segala keunikannya, dengan demikian bantuan itu diberikan dengan mempertimbangkan keragaman dan keunikan individu.
·         Tujuan bimbingan adalah perkembangan optimal, perkembangan optimal ialah perkembangan yang sesuai dengan potensi dan sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan benar.
b.      Konseling
            Konseling merupakan terjemahan dari counseling yaitu bagian dari bimbingan, baik sebagai pelayanan maupun teknik. “Layanan konseling adalah jantug hati layanan secara keseluruhan (counseling is the heart of guidance)”, (Dewa Ketut Sukardi,1985:11). Dan Ruth Strang menyatakan bahwa: “counseling is a most important tool of guidance”(Ruth Strang, 1958). Jadi konseling merupakan inti dari alat yang paling penting dalam bimbingan.
Sedangkan menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105), konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Dan masih banyak lagi definisi konseling menurut para ahli yang lain namun dari definisi-definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa konseling adalah suatu upaya bantuan yang dilakukan dengan empat mata atau tatap muka antara konselor dengan konseli yang berisi usaha yang laras unik dan manusiawi yang dilakukan dalam suasana keahlian dan didasarkan  atas norma-norma yang berlaku. Agar konseli memperoleh konsep diri dan kepercayaan diri sendiri dalam memperbaiki tingkah lakunya pada saat ini dan mungkin pada saat yang akan datang.
Secara umum pengertian bimbingan dan konseling adalah proses pemberian bantuan secara sistematis dan intensif kepada peserta didik dalam rangka pengembangan pribadi, sosial, studi dan karirnya demi masa depannya yang dilakukan oleh pendidik.

2.      Latar Belakang Bimbingan dan Konseling
Manusia adalah makhluk yang terlahir ke dunia dengan dibekali berbagai potensi oleh Tuhan YME. Potensi-potensi tersebut diantaranya potensi untuk beriman dan bertaqwa pada Tuhan YME, potensi untuk mampu berbuat baik, potensi cipta, rasa, karsa, dan potensi karya. Tugas manusia adalah untuk menjadi manusia seutuhnya/ideal/dewasa yaitu manusia yang mampu mewujudkan berbagai potensi yang ada pada dirinya secara optimal, mampu menyatu dalam suasana kebersamaan dengan lingkungannya, mampu menyesuaikan diri dengan aturan dan ketentuan yang berlaku dan mampu mempertanggungjawabkan segala aspek kehidupannya di dunia terhadap kehidupan di akhirat kelak. Namun di sisi lain manusia terlahir juga dibekali hawa nafsu yaitu dorongan untuk berbuat jahat, hawa nafsu inilah yang akan menghambat proses perkembangan manusia menuju kedewasaan. Dalam kondisi inilah diperlukan suatu layanan yang dapat meminimalisir hawa nafsu atau menyeimbangkan antara potensi dan hawa nafsu agar keduannya berjalan berdampingan tidak saling melemahkan. Layanan tersebut adalah bimbingan dan konseling.
Fenomena atau gejala lain yang melatar belakangi adanya bimbingan konseling adalah perkembangan teknologi. Sekarang keadaan masyarakat indonesia bahkan dunia makin berkembang atau berubah. Teknologi dan informasi berkembang sangat pesat, demikian juga globalisasi turut membuat perubahan masyarakat dunia. Manusia tidak dapat mengelak dari perubahan tersebut. Dengan kata lain, globalisasi dan derasnya arus informasi akan memberikan dampak yang besar terhadap seluruh warga masyarakat termasuk peserta didik.
Disadari maupun tidak perubahan yang cepat tersebut menuntut warga masyarakat termasuk peserta didik untuk dapat menyesuaikan diri agar tidak menjadi korban dari laju perubahan yang cepat tersebut. Bagi mereka yang tergolong mampu menyesuaikan diri dengan baik mungkin tidak menjadi masalah, namun sebaliknya bagi mereka yang kurang mampu menyesuaikan diri maka akan berakibat negatif, misalnya menjadi frustasi, stres, minder, bertingkah laku aneh, dan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
Sebagai peserta didik yang tengah melakukan proses untuk mencapai tugas perkembangannya yaitu tugas-tugas yang muncul pada suatu periode tertentu dari kehidupan individu, yang jika berhasil akan menimbulkan kebahagiaan dan membawa ke arah keberhasilan dalam melaksanakan tugas tugas berikutya, sementara kegagalan dalam melaksanakan tugas tersebut akan menimbulkan rasa tidak bahagia, ditolak oleh masyarakat dan mengalami kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Artinya dalam mencapai tugas perkembangannya ada kemungkinan mengalami kegagalan dan menandakan bahwa diperlukannya perhatian dan bimbingan dari pihak lain yang lebih berpengalaman agar tidak mengalami kegagalan.
Jadi kaitannya dengan kemajuan teknologi dan informasi serta globalisasi memungkinkan adanya kegagalan dalam proses perkembangan untuk mewujudkan diri sebagai individu yang utuh, warga masyarakat termasuk peserta didik mutlak perlu melakukan penyesuaian diri sedemikian rupa sehingga terhindar dari kegagalan dalam perkembangannya. Untuk itu diperlukan suatu layanan bantuan professional yang salah satunya adalah bimbingan dan konseling.


            Rujukan :
Sukardi, Dewa Ketut. (2000), Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Kartadinata, Sunaryo. (1998), Bimbingan Di Sekolah Dasar, Jakarta: Dirjen Dikti.
http://sugengsuhardi.blogspot.com/2011/02/pengertian-bimbingan-dan-konseling_23.html

Template by : kendhin x-template.blogspot.com